Keutamaan dan Panduan Mengamalkan Surat Yusuf untuk Ibu Hamil Ayat 1-16
Bagi setiap calon orang tua, menantikan kehadiran buah hati adalah momen yang penuh kebahagiaan dan harapan. Banyak amalan baik yang dianjurkan dalam Islam untuk menyambutnya, salah satunya adalah membaca surat Yusuf untuk ibu hamil ayat 1-16. Amalan ini diyakini membawa keberkahan dan harapan agar anak yang lahir memiliki paras rupawan, hati yang bersih, serta akhlak mulia seperti Nabi Yusuf AS. Mengapa Surat Yusuf Dianjurkan untuk Ibu Hamil? Surat Yusuf adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang dikenal dengan kisah Nabi Yusuf AS yang sangat indah dan penuh hikmah. Kisah beliau menggambarkan kesabaran, ketabahan, kesucian hati, dan ketampanan fisik yang luar biasa. Banyak ulama dan masyarakat Muslim meyakini bahwa dengan membaca surat ini, terutama bagi ibu hamil, dapat menularkan sifat-sifat baik tersebut kepada calon bayi. Keindahan akhlak dan ketampanan Nabi Yusuf AS seringkali menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk berdoa dan berharap agar anaknya kelak memiliki kemuliaan serupa. Selain itu, membaca Al-Qur’an secara umum adalah ibadah yang mendatangkan pahala dan ketenangan jiwa bagi ibu hamil, yang secara tidak langsung juga memberikan dampak positif bagi perkembangan janin di dalam kandungan. Bacaan Lengkap Surat Yusuf Ayat 1-16 dan Terjemahannya Berikut adalah bacaan lengkap Surat Yusuf ayat 1-16 dalam tulisan Arab, Latin, dan terjemahannya: Ayat 1 الۤرٰ ۚ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ Alif Lam Ra. Tilka ayatul-Kitabil-Mubin. Alif Lam Ra. Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an) yang jelas. Ayat 2 اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ Inna anzalnahu Qur’anan ‘Arabiyyal-la’allakum ta’qilun. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti. Ayat 3 نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَ ۖوَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ Nahnu naqussu ‘alaika ahsanal-qasasi bima awhaina ilaika hazal-Qur’ana wa in kunta min qablihi laminal-ghafilin. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum (Kami mewahyukan)nya termasuk orang yang tidak mengetahui. Ayat 4 اِذْ قَالَ يُوْسُفُ لِاَبِيْهِ يٰٓاَبَتِ اِنِّيْ رَاَيْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَاَيْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ Iz qala Yusufu li’abihi ya abati inni ra’aitu ahada ‘ashara kaukabaw wash-shamsa wal-qamara ra’aituhum li sajidin. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Ayat 5 قَالَ يٰبُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُءْيَاكَ عَلٰٓى اِخْوَتِكَ فَيَكِيْدُوْا لَكَ كَيْدًا ۗاِنَّ الشَّيْطٰنَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ Qala ya bunayya la taqsus ru’yaka ‘ala ikhwatika fa yakidu laka kaida. Innash-shaitana lil-insani ‘aduwum mubin. Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” Ayat 6 وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيْكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَعَلٰٓى اٰلِ يَعْقُوْبَ كَمَآ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ ۗاِنَّ رَبَّكَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ Wa kazalika yajtabika Rabbuka wa yu’allimuka min ta’wilil-ahadisi wa yutimmu ni’matahu ‘alaika wa ‘ala ali Ya’quba kama atammaha ‘ala abawaika min qablu Ibrahima wa Ishaq. Inna Rabbaka ‘Alimun Hakim. Dan demikianlah, Tuhanmu memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang tuamu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Ayat 7 لَقَدْ كَانَ فِيْ يُوْسُفَ وَاِخْوَتِهٖٓ اٰيٰتٌ لِّلسَّاۤىِٕلِيْنَ Laqad kana fi Yusufa wa ikhwatihi ayatul-lis-sa’ilin. Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya. Ayat 8 اِذْ قَالُوْا لَيُوْسُفُ وَاَخُوْهُ اَحَبُّ اِلٰى اَبِيْنَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ ۗاِنَّ اَبَانَا لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ Iz qalu laYusufu wa akhuhu ahabbu ila abina minna wa nahnu ‘usbah. Inna abana lafi dalalim mubin. (Ingatlah) ketika mereka berkata, “Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita berada dalam kekeliruan yang nyata.” Ayat 9 اُقْتُلُوْا يُوْسُفَ اَوِ اطْرَحُوْهُ اَرْضًا يَّخْلُ لَكُمْ وَجْهُ اَبِيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا مِنْۢ بَعْدِهٖ قَوْمًا صٰلِحِيْنَ Uqtulu Yusufa awit-rahuho ardoy yakhlu lakum wajhu abikum wa takunu mim ba’dihi qauman salihin. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat agar perhatian ayah tercurah kepadamu seluruhnya, dan setelah itu kamu menjadi orang-orang yang baik.” Ayat 10 قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ Qala qa’ilum minhum la taqtulu Yusufa wa alqohu fi ghayabatil-jubbi yaltaqithu ba’dus-sayyarati in kuntum fa’ilin. Salah seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir, jika kamu hendak berbuat.” Ayat 11 قَالُوْا يٰٓاَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِنَّا لَهٗ لَنٰصِحُوْنَ Qalu ya abana ma laka la ta’manna ‘ala Yusufa wa inna lahu lanasihoon. Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya?” Ayat 12 اَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَّرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ Arsilhu ma’ana ghaday yarta’ wa yal’ab wa inna lahu lahafizun. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.” Ayat 13 قَالَ اِنِّيْ لَيَحْزُنُنِيْٓ اَنْ تَذْهَبُوْا بِهٖ وَاَخَافُ اَنْ يَّأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَاَنْتُمْ عَنْهُ غٰفِلُوْنَ Qala inni layahzununii an tazhabu bihi wa akhafu ay ya’kulahuz-zi’bu wa antum ‘anhu ghafilun. Dia (Ya’qub) berkata, “Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.” Ayat 14 قَالُوْا لَىِٕنْ اَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ اِنَّآ اِذًا لَّخٰسِرُوْنَ Qalu la’in akalahuz-zi’bu wa nahnu ‘usbatun inna izal-lakhasirun. Mereka berkata, “Sungguh, jika dia dimakan serigala, padahal kami golongan (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi.” Ayat 15 فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ ۗوَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ Falamma zahabu bihi wa ajma’u ay yaj’aluhu fi ghayabatil-jubbi wa awhaina ilaihi latunabbi’annahum bi amrihim haza wa hum la yash’urun. Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur (lalu mereka melaksanakannya). Dan Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari.” Ayat 16 وَجَاۤءُوْٓ اَبَاهُمْ عِشَاۤءً يَّبْكُوْنَ Wa ja’u abahum ‘isha’ay yabkun. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada petang hari sambil menangis. Tata Cara dan Waktu Terbaik Mengamalkan Surat Yusuf untuk Ibu Hamil Mengamalkan Surat Yusuf untuk ibu hamil ayat 1-16
Keutamaan dan Panduan Mengamalkan Surat Yusuf untuk Ibu Hamil Ayat 1-16 Read More »

