Pertanyaan apakah aqiqah wajib seringkali muncul di benak banyak Muslim yang ingin menunaikan sunnah bagi buah hati mereka. Aqiqah merupakan salah satu ibadah penting dalam Islam yang memiliki makna mendalam, namun status hukumnya memang kerap menjadi pembahasan. Mari kita kupas tuntas agar Anda bisa memahami lebih jelas tentang aqiqah.

Hukum Aqiqah dalam Islam: Wajib atau Sunnah Muakkadah?
Mengenai hukum aqiqah, mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah adalah sunnah muakkadah. Apa artinya sunnah muakkadah? Ini berarti ibadah tersebut sangat dianjurkan untuk dilaksanakan oleh umat Muslim, bahkan mendekati wajib karena keutamaannya yang besar dan Rasulullah SAW sendiri serta para sahabat melaksanakannya. Namun, tidak sampai pada tingkatan wajib yang jika ditinggalkan akan berdosa.
Beberapa ulama, seperti Imam Ahmad dan sebagian ulama lainnya, memang berpandangan bahwa aqiqah adalah wajib. Akan tetapi, pandangan yang paling kuat dan dipegang oleh mayoritas mazhab (termasuk Syafi’i, Maliki, dan Hanafi) adalah sunnah muakkadah. Dalil-dalil yang mendasari pandangan ini antara lain hadits Rasulullah SAW yang bersabda:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)
Hadits ini menunjukkan anjuran yang kuat untuk beraqiqah, namun tidak menggunakan redaksi perintah yang mengindikasikan kewajiban mutlak. Oleh karena itu, bagi orang tua yang mampu, sangat dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran anak dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.
Hikmah dan Keutamaan Melaksanakan Aqiqah
Melaksanakan aqiqah bukan hanya sekadar mengikuti anjuran, tetapi juga mengandung banyak hikmah dan keutamaan yang luar biasa. Berikut beberapa di antaranya:
- Bentuk Syukur kepada Allah SWT: Aqiqah adalah wujud syukur atas karunia anak yang telah diberikan Allah SWT, sekaligus sebagai penebus bagi sang anak.
- Mendekatkan Diri pada Allah: Dengan menunaikan aqiqah, kita menunjukkan ketaatan dan kecintaan kepada Allah serta Rasul-Nya.
- Tolak Bala dan Memohon Keberkahan: Beberapa ulama meyakini bahwa aqiqah dapat menjadi sebab terhindarnya anak dari berbagai musibah dan mendatangkan keberkahan dalam hidupnya.
- Mempererat Tali Silaturahmi: Daging aqiqah yang dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan fakir miskin menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan berbagi kebahagiaan.
- Penyebaran Berita Gembira: Aqiqah juga menjadi cara untuk mengumumkan kelahiran seorang anak dan berbagi kebahagiaan dengan lingkungan sekitar.
Mengingat pentingnya ibadah ini, Aqiqah Khidmat hadir untuk membantu keluarga Muslim menunaikan sunnah ini dengan mudah dan terjangkau, memastikan setiap prosesnya sesuai syariat.
Syarat dan Ketentuan Aqiqah Sesuai Syariat Islam
Agar aqiqah Anda sah dan diterima di sisi Allah SWT, ada beberapa syarat dan ketentuan yang perlu diperhatikan:
-
Jumlah Hewan Aqiqah
- Untuk anak laki-laki: Dianjurkan menyembelih dua ekor kambing/domba.
- Untuk anak perempuan: Dianjurkan menyembelih satu ekor kambing/domba.
-
Kriteria Hewan Aqiqah
- Hewan harus dalam kondisi sehat, tidak cacat, dan cukup umur (minimal 6 bulan untuk domba, 1 tahun untuk kambing).
- Dianjurkan hewan jantan, namun betina juga diperbolehkan.
-
Waktu Pelaksanaan
- Waktu yang paling utama adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak.
- Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14 atau ke-21.
- Bahkan, aqiqah masih sah dilakukan kapan saja setelah itu, hingga anak dewasa, atau bahkan oleh orang dewasa untuk dirinya sendiri jika belum diaqiqahi saat kecil.
-
Pembagian Daging Aqiqah
- Daging aqiqah dianjurkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan.
- Pembagiannya bisa kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan fakir miskin. Tidak ada batasan khusus, namun dianjurkan untuk berbagi sebanyak-banyaknya.
Aqiqah Khidmat, sebagai bagian dari keluarga besar Aqiqah Nurul Hayat, selalu memastikan setiap proses aqiqah dilakukan sesuai syariat, mulai dari pemilihan hewan hingga proses penyembelihan dan pengolahan masakan yang higienis dan lezat.
Pertanyaan Umum Seputar Aqiqah
1. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah?
Waktu terbaik adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14 atau ke-21. Namun, jika masih belum bisa, aqiqah tetap sah dilaksanakan kapan pun setelah itu, bahkan hingga anak dewasa.
2. Berapa jumlah kambing untuk aqiqah anak laki-laki dan perempuan?
Untuk anak laki-laki dianjurkan menyembelih dua ekor kambing/domba, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing/domba.
3. Siapa yang wajib melaksanakan aqiqah?
Aqiqah adalah tanggung jawab orang tua atau wali anak. Namun, jika orang tua tidak mampu, dan anak tersebut sudah dewasa serta mampu secara finansial, ia bisa beraqiqah untuk dirinya sendiri.
4. Apa hukum jika aqiqah tidak dilaksanakan?
Karena hukumnya sunnah muakkadah, jika aqiqah tidak dilaksanakan, tidak ada dosa yang ditanggung. Namun, orang tua kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala besar dan keberkahan dari menunaikan sunnah yang sangat dianjurkan ini.
5. Apakah boleh aqiqah setelah dewasa?
Ya, boleh. Jika seseorang belum diaqiqahi oleh orang tuanya saat kecil, ia dapat beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah dewasa, jika ia mampu.
Memahami apakah aqiqah wajib atau sunnah muakkadah adalah langkah awal yang baik. Yang terpenting adalah niat tulus untuk menunaikan ibadah ini sebagai bentuk syukur dan ketaatan kepada Allah SWT. Dengan adanya layanan seperti Aqiqah Khidmat, menunaikan aqiqah kini menjadi lebih mudah, hemat, namun tetap menjaga kualitas rasa dan kesesuaian syariat. Kami berkomitmen untuk menyajikan hidangan aqiqah yang lezat, higienis, dan pastinya nikmat untuk keluarga Anda.
Ingin aqiqah yang hemat tapi tetap lezat dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Khidmat — pilihan aqiqah budget terpercaya, hemat, lezat, dan nikmat untuk keluarga Muslim Indonesia.

